Langsung ke konten utama

Makalah Tingkatan Hadist

           
Kami panjatkan puji dan syukur ke hadirat Alah Swt yang telah memberikan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya sehingga Kami bisa menyelesaikan pembuatan makalah Tahapan Turunnya Al Quran. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. beserta keluarga, sahabat-sahabat, dan para pengikut beliau hingga akhir zaman.
Pada kesempatan ini, Kami ingin mengucapkan terimakasih kepada Bapak Abdul Majid, MA. selaku dosen pengampu mata kuliah Al-Quran dan Hadist Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakartan, yang telah memberi bimbingan kepada Kami.
Dalam penulisan makalah ini masih terdapat kesalahan dan kekurangan yang mungkin tidak disadari oleh Kami. Penulisan makalah ini pun masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu,  Kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun sebagai bahan perbaikan dalam makalah selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat dan berkah baik bagi Kami maupun bagi pembaca.
Amin.
Yogyakarta,19 Desember  2016

Penulis





BAB 1
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Hadis dan sunnah, baik secara struktural maupun fungsional, disepakati oleh mayoritas kaum muslimin dari berbagai madzab islam, sebagai sumber ajaran islam, karena dengan adanya Hadis dan Sunah itulah ajaran islam menjadi jelas, rinci, dan spesifik. Sepanjang sejarahnya, hadis-hadis yang tercantum dalam berbagai kitab hadis yang ada., berasal melalui proses penelitian ilmiah yang rumit sehingga menghasilkan kualitas hadis yang diinginkan oleh para penghimpunnya.

Kata hadis merupakan istilah yang sangat populer dikalangan umat Islam, selain kata al-Qur’an. Hal ini tidak lain karena Hadis merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Quran itu sendiri. Namun demikian, tidak sedikit umat islam yang kurang mengetahui dan memahami hakekat istilah tersebut.  Padahal, pengetahuan dan pemahaman ini penting untuk dapat menjadikan hadis sebagai dasar hukum secara benar dan tepat. Karena itu, dalam pembahasan ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan itu, sehingga kita semua memiliki bekal yang diperlukan dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat.

B.     RUMUSAN MASALAH

1.      Sebutkan dan jelaskan pembagian hadis ?
2.      Sebutkan apa saja tingkatan hadis ?

C.     TUJUAN MAKALAH

1.      Dapat memahami dan menjelaskan pembagian hadist menurut para ulama.
2.      Dapat menyebutkan apa saja tingkatan hadist.



BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAGIAN DAN TINGKATAN HADIST

A.    Hadist Ditinjau dari Segi Kuantitas dan Kualitas Periwayat
Secara umum, hadis jika ditinjua dari sisi jumlah (kuantitas) periwayatnya, maka hadis dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu
1.      Hadis Mutawatir
Secara lugawi istilah mutawatir berasal dari isim fail musytaq dari al-tawatur yang berarti tatabu’ datang berturut-turut dan beriringan satu dengan yang lainnya). Seperti dalam surat Al-Mukminun ayat 44. Secara istilah yang dimaksud dengan mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh banyak periwayat dalam setiap tingkatan satu dengan yang lainnya dan masih-masih periwayat tersebut semua adil yang tidak memungkinkan mereka semuanya sepakat berdusta atau bohong semuanya bersandar pada panca indera.

Syarat-syarat hadis mutawatir sebagai berikut :
·         Bilangan atau jumlah periwayatnya banyak. Dalam hal ini ulama berselisih tentang jumlahnya. Sebagian ulama berpendapat bahwa paling sedikit adalah 4 orang periwayat berdasarkan pemahaman atas Q.S An-Nuur:13, sebagian di antara ulama ada yang berpendapat minimal 5 periwayat berdasar Q.S An-Nuur:39, ada pendapat lain yang menyatakan bahwa jumlah minimalnya 10 periwayat karena dengan alasan jumlah kurang dari sepuluh merupakan bilangan satuan. Dari adanya upaya jumlah minimal masing-masing periwayat yang terlibat di dalam periwayatan hadis yang didukung beberapa lasan dari dalil Al-Qur’an di atas dan dalam setiap tingkatannya harus seimbang. Oleh karena itu, isis atau teks hadis yang diriwayatkan diantara mereka nyata tidak ada perbedaan satu dengan yang lain. Atau dengan kata lain mereka tidak berdusta atas yang disampaikannya merupakan benar-benar dari Rasulullah saw.
·         Semuanya bersandar pada panca indera. Persyaratan ini menjadikan hadis mutawatir mencapai derajat yang tinggi karena tranmisinya dilakukan dengan metode al-sama’. Dalam pandangan ulama metode cara penyampaian hadis tersebut merupakan metode terbaik dalam periwayatan hadis.
Adapun macam-macam mutawatir :
·         Mutawatir lafzi, hadis yang diriwayatkan secara banyak periwayat dari sisi lafalnya satu dengan yang lain sama seperti hadis Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan oleh sebanyak 40 sahabat, sedangkan menurut al-Asqalani menyatakan bahwa hadis tersebut diriwayatkan oleh 200orang sahabat.
·         Mutawatir ma’nawi hadis yang diriwayatkan secar banyak periwayat dipandang dari sisi lafalnya satu dengan yang lain berbeda tetapi masih dalam konteks yang sama (satu makna). Dengan demikian, tipe hadis ini tidak ada syarat kecocokan atas kalimat atas yang diriwayatkan masing-masing periwayat hadis.
Kebanyakan ulama berpendapat bahwa hadis mutawatir sama kedudukannya dengan keyakinan dan penyaksian sendiri. Hadis seperti ini merupakan pengetahuan yang harus diketahui dan membawa konsekuensi sesuatu yang pasti.
2.      Hadis Ahad
Hadis yang tidak mencapai derajat mutawtir biasanya disebut dengan hadis ahad yang secara bahasa dari kata Wahid artinya satu. Secara istilah sering diartikan dengan hadis yang jumlah periwayatnya terbatas atau tidak banyak sebagaimana yang terjadi pada hadis mutawatir.

Hadist ahad dibagi menjadi 3 yaitu :
a.       Masyhur
Secara etimologi berarti tersebar atau tersiar (muntasyir). Menurut istilah, menurut Ibnu Hajar al-Asqalani hadis adalah hadis yang diriwayatkan lebih dari dua orang tetapi belum mencapaiderajat mutawatir. Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa hadis ulama hadis masyhur adalah hadis yang sanad terbatas dan lebih dari dua, namun derajatnya tidak sampai mutawatir. Periwayatan hadis masyhur lebih umum dibanding dengan hadis mustafid.
b.      Aziz
Secara bahasa dari kata azza-ya’azzu yang berarti kuat atau sedikit?jarang atau disebut juga dengan al-syarif  (yang mulia). Adapun secara istilah hadis yang jumlah periwayatnya tidak kurang dari dua orang dalam seluruh tingkatannya. Atas definisi tersebut, Ibn Hibban mengatakan sangat sulit sekali kalau yang dimaksud periwayatnya dua orang dalam setiap tingkatannya. Definisi lain tentang hadis aziz adalah hadis yang diriwayatkan terbatas dua orang periwayat dalam sebagian tingkatannya dan sebagai lainnya ada yang lebih dari dua periwayat.
c.       Garib
Secara etimologis kata qarib merupakan sifat musyabbib yang bermakna sendirian atau jauh dari keluarganya atau jauh dari tanah air atau sulit dipahami. Secara istilah hadis qarib adalah hadis yang diriwayatkan oleh seorang periwayat saja dengan tidak dipersoalkan dalam tabaqat mana sajanya.

Kemungkinan-kemungkinan keqariban suatu hadis :
·         Hadis yang qarib dari sisi matan.
·         Hadis yang qarib dari sisi sanad.
·         Hadis yang qarib  dari sisi sanad dan matan.




B.     Hadis yang ditinjau dari kualitasnya :
A.    Hadis sahih
Pengertian berasal dari kata sahih selamat dari penyakit, dan bebas dari aib. Menurut Ibn Salah hadis sahih adalah hadis yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh periwayat yang adil dan dabit dari awal hingga akhir sanadnya serta tidak ada syaz dan tidak ada ‘illat.

Sedangkan menurut Subhi al-Salih memberikan pengertian hadis sahih adalah hadis yang sanadnya bersambung, dikutip oleh periwayat yang adil dan cermat dari orang yang sama sampai berakhir pada masa Rasulullah saw. Atau ke[pada sahabat dan tabi’in, bukan hadis yang syaz dan tidak  ‘illat.

Dari penjelasan diatas diperoleh syarat hadis sahih yaitu :
Ø  Seluruh sanadnya bersambung, masing-masing periwayat yang terlibat dalam kegiatan transmisi hadis harus mendengar langsung dari periwayat sebelumnya.
Ø  Periwayat yang terlibat hadis harus ‘adil. Istilah adil disini merupakan istilah khusus dalam ilmu hadis. Periwayat yang dikatakan ‘adil  karena memiliki kriteria persyaratan :
1)      Beragama islam.
2)      Mukallaf.
3)      Melaksanakan ketentuan agama.
4)      Memelihara muru’ah.
Untuk menentukan suatu periwayat apakah dapat dikatakan ‘adil atau tidak adalah dengan cara :
1)      Popularitas keutamaan periwayat dikalangan ulama hadis.
2)      Penilaian kritikus hadis baik berupa kelebihan maupun kekurangan periwayat hadis.
3)      Penerapan kaedah jarh wa ta’dil, jika kritikus berselisih pendapat tentang keadaan periwayat hadis.
Ø  Diriwayatkan atas periwayat yang dabit. Istilah dabit menurut para ulama bermacam-macam.  Maka butir-butir yang harus ada pada periwayat yang dabit adalah :
1)      Periwayat tersebut memahami baik terhadap riwayat yang ia dengarkannya (diterimanya).
2)      Periwayat tersebut hafal dengan baik terhadap riwayat yang ia dengarkan (diterimanya).
3)      Periwayat tersebut mampu menyampaikan dengan baik apa yang dipahami dan dihafal dari riwayat yang ia dengarkannya di waktu kapan saja dia menghendakinya dan sampai dia menyampaikan periwayatannya kepad orang lain.

Adapun cara yang digunakan dalam menentukan ke-dabit-an periwayat hadis adalah :
1)      Berdasar kesaksian ulama.
2)      Kesesuaian riwayatnya dengan periwayat lain yang telah diketahuai kedabitannya. Upaya ini hanya sampai pada penelusuran ketingkat makna atau hanya secar harfiyah.
3)      Jika periwayat sesekali terjadi kesalahan atas yang diriwayatkan maka hal tersebut tidak menjadi persoalan namun jika kesalahan tersebut berulang kali, maka yang bersangkutan tidak dapat dikategorikan dalam periwayat yang dabit.
Ø  Tidak terdapat adanya syaz. Secara kebahasaan, kebahasaan syaz berarti jarang, yang menyendiri, yang asing, yang menyalahi aturan, dan yang menyalahi orang banyak. Ada tiga pendapat tentang pengertian syaz :
1)      Menurut imam syafi’i hadis dinyatakan tidak mempunyai syaz jika dinyatakan oleh periwayat yang siqat sedangkan periwayat yang siqat lainnya tidak meriwayatkannya.
2)      Menurut Al-Hakim adalah hadis yang diriwayatkan oleh seorang periwayat yang siqat tetapi tidak ada periwayat yang siqat lainnya dalam meriwayatkan hadis.
Ø  Tidak terdapat adanya ‘illat. Secara bahasa berarti cacat atau kesalahan baca, penyakit, dan keburukan. Menurut istilah hadis, sebab yang tersembunyi yang dapat merusak kualitas hadis
B.     Hadis Hasan
Secara bahasa dari kata hasan-yahsunu yang berati yang baik atau yang bagus. Dengan demikian, hadis hasan sama dengan hadis sahih, namun hanya terrdapat kekurangan adanya kelemahan daya hafalan (tidak terlalu kuat).
Berdasarkan pengertian tersebut, maka hadis hasan kerusakannya tidak parah dalam artian bisa menggugurkan hadis. Bisa terjadi kerusakan tersebut dijaga oleh periwayatnya dengan aktif memelihara hadis dengan cara mencatat. Oleh karena itu, ulama memberi justifikasi boleh dalam berhujjah dengan hadis hasan. Sumber hadis hasan dapat diperoleh dalam kitab-kitab hadis yang disebut sebgai sumber hadis sahih.
Pembagian hadis hasan lizatih hadis hasan dengan sendirinya dan hasan liqairih, hadis yang didalam sanadnya tidak diketahui keadaannya, tidak dapat dipastikan kelayakannya. Namun ia tidak termasuk orang yang banyak berbuat salah dan tidak dituduh berdusta. Dengan demikian, hasan liqairih adalah hadis yang diriwayatkan oleh periwayat yang da’if namun da’if-nya tidak disebabkan oleh banyak kesalahan, tidak bersifat fasiq, dan hadis tersebut diriwayatkan oleh periwayat lain dari guru tadi atau yang lebih tinggi darinya berdasarkan lafal maupun maknanya. Ulama yang pertama kali memperkenalkan hadis hasan adalah al-Tirmizi.


C.     Hadis Da’if
Hadis yang di dalamnya tidak terdpat ciri ke-sahih-an dan ke-hasan-an. Di dalamnya terdapat periwayat pendusta atau tertuduh dusta, banyak membuat kekeliruan, suka pelupa, suka maksiat dan fasik, banyak angan-angan, menyalahi periwayat kepercayaan, periwayatnya tidak dikenal, penganut bid’ah dan tidak baik hafalannya. Dikalangan ulama masih memperselisihkan jumlah bentuk hadis da’if. Diantara ulam ada yang mengklasifikasikan menjadi 381 bentu. Namun, Ibn Shalah berpebdapat jumlahnya tidak sampai lebih dari 42 bentuk.
Pembagian hadis da’if menurut ulama membagi menjadi berbagai macam tergantung diaman letak kelemahannya. Kelemahan tersebut bisa terjadi dalam lima hal, sebagaimana telah disebutkan diatas sebagai salah satu syarat hadis sahih.



BAB III
KESIMPULAN

Hadis mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh banyak periwayat dalam setiap tingkatan satu dengan yang lainnya dan masih-masih periwayat tersebut semua adil yang tidak memungkinkan mereka semuanya sepakat berdusta atau bohong semuanya bersandar pada panca indera.hadis ahad adalah  hadis yang jumlah periwayatnya terbatas atau tidak banyak sebagaimana yang terjadi pada hadis mutawatir.

Hadis sahih adalah hadis yang seluruh sanadnya bersambung, masing-masing periwayat yang terlibat dalam kegiatan transmisi hadis harus mendengar langsung dari periwayat sebelumnya. Dikalangan ulama masih memperselisihkan jumlah bentuk hadis da’if. Diantara ulam ada yang mengklasifikasikan menjadi 381 bentu. Namun, Ibn Shalah berpebdapat jumlahnya tidak sampai lebih dari 42 bentuk.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yuk (kenal) an

Assalamu'alaikum Wr. Wb 🙇🙇 Holaaaa! Jadi di postingan kali ini aku mau memperkenalkan diri aku *tsaaah jadiii, nama lengkap aku Adyana Dwi Annisaa Chania, biasanya sih dipanggil nisa kalo dirumah, kalo di kampus ngasal juga boleh manggilnya terserah kalian 😪 Aku adalah seorang mahasiswi Uin Sunan Kalijaga Yogyakarta, jurusan perbankan syariah di Fakultas Eknomi dan Bisnis Islam. Aku tinggal di Yogyakarta sudah sejak tahun 2013 atau lebih tepatnya waktu aku masuk SMK. sebelum tinggal di Jogja, domisili tempat tinggalku yaitu di Pekanbaru, Riau   Berhubung bingung mau nulis apa, jadi aku mau cerita kegiatan sehari-hari yan di jalani anak perbankan syariah (rada songong gitu ya 😚 ). Perbankan Syariah, pertama kali denger kata itu aja pasti udah mikir bank yang sistemnya itu islam banget kan, malah kadang ada beberapa orang yang gatau apasih yang dipelajari di perbankan syariah, apasih bedanya ama perbankan konvensional, apasih jadinya anak perbankan syariah nanti, kerjanya jad...
Tips dan Trik WhatsApp So pasti kamu udah ga asing lagi sama aplikasi messenger yang satu ini. Hampir seluruh kalangan usia menginstall aplikasi ini di smartphone nya, bahkan khusus untuk mahasiswa yang biasanya para dosen bakal buat grup mata kuliah gitu melalui aplikasi ini.  Yap! WhatsApp. Apasih WhatsApp itu?  WhatsApp  adalah aplikasi pesan untuk smartphone dengan basic mirip BlackBerry Messenger.  WhatsApp  Messenger merupakan aplikasi pesan lintas platform yang memungkinkan kita bertukar pesan tanpa biaya SMS, karena  WhatsApp Messenger menggunakan paket data internet yang sama untuk email, browsing web, dan lain-lain. Nah biasanya kan kamu make aplikasi ini buat chattingan ama doi tuh. Tapi ada tips dan trik yang bisa kamu dapatkan melalui aplikasi ini loh. apa aja? yuk disimak 1. Laporan Terbaca Ghaib Buat kamu yang lagi marahan ama doi cocok banget nih, kamu bisa membaca pesan doi tanpa harus membalasnya, dan doi kamu ngiranya ka...

Lirik lagu Shape of You

The club isn’t the best place to find a lover So the bar is where I go Me and my friends at the table doing shots Drinking faster and then we talk slow Come over and start up a conversation with just me And trust me I’ll give it a chance now Take my hand, stop Put Van The Man on the jukebox And then we start to dance And now I’m singing like Girl, you know I want your love Your love was handmade for somebody like me Come on now, follow my lead I may be crazy, don’t mind me Say, boy, let’s not talk too much Grab on my waist and put that body on me Come on now, follow my lead Come, come on now, follow my lead I’m in love with the shape of you We push and pull like a magnet do Although my heart is falling too I’m in love with your body And last night you were in my room And now my bedsheets smell like you Every day discovering something brand new I’m in love with your body Oh I oh I oh I oh I I’m in love with your body Oh I oh I oh I oh I I’m in love with y...